Rabu, 25 Januari 2017

Matrikulasi IIP: Komunikasi Produktif

Sebenernya material kulwap ya belom sampai sini, tp mbak fasilitator nya ngasih link ini, ini keren banget Dan wajib di pin, jd sekalian Aku post di blog aja ya.. buat self reminder. Karena komunikasi ini masalah saya sekaliiiii yg udah sering diingetin tapi Begitu lagi Begitu lagiiiii 🙈🙈🙈 Jadi harus sering" dibaca ya maaaak 😅😅😅

_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_

_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_

***

Matrikulasi IIP : Adab Menuntut Ilmu


Alhamdulillah akhirnya kesampean juga ikut matrikulasi programnya Institut Ibu Professional, setelah bertahun-tahun naksir berat sama bu Septi Dan program"nya 💓

Bab 1 nya dimulai dengan judul "ADAB MENUNTUT ILMU", setelah dapat materi dari fasilitator Jadi merasa Malu, karena sudah diingatkan kembali, bahkan menuntut ilmu pun ada adab"nya. MasyaAllah... Semoga dengan belajar Bab ini, menjadi start yang baik terutama bagi saya yang masih banyak kekurangannya.

Rencananya, materi, diskusi dan home work akan saya cantumkan di blog, semoga suatu saat nanti, bisa jd pengingat diri, juga siapa tau bermanfaat untuk orang lain :)

Doakan saya semangat Dan lancar menjalani kuliah matrikulasi ini yaaa..

Cemunguuuudh!!!

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

rangkuman hasil diskusi

1⃣ Bagaimana menumbuhkan rasa cinta terhadap ilmu supaya kita bisa mengejar ilmu tanpa keterpaksaan? Hal dasar apa saja yg harus dilakukan?

Terima kasih.

-gista

Jawaban :

1⃣ Mba gista,  pertama kali carilah alasan terkuat kenapa kita harus mengejar ilmu tersebut

Misalnya saya ingin belajar untuk menjadi seorang ibu yang baik,  karena saya mendapatkan amanah dari Allah dan untuk menjalankan amanah tersebut,  tentunya saya harus mempunyai ilmu.  Apa jadinya jika saya tidak punya ilmu,  mungkin saya akan menelantarkan anak saya.  Saya akan asik sendiri mengerjakan hal yg saya suka tanpa peduli bagaimana kesehatan mereka, apa saja makanan yg baik utk mereka, bagaimana mendidik mereka dan hal lainnya.

Kedua *start from the finish line* kita harus tau tujuan utama kita menuntut ilmu tersebut,  kemudian buat milestonenya sehingga kita paham perjalanan menuntut ilmu kita sudah sampai dimana. 

Ketiga, ikhlas (niat & kosongkan gelas sebelum menuntut ilmu). Munculkan rasa ingin tau yg tinggi tentang ilmu tersebut sehingga kita tidak pernah berhenti bertanya dan mencari tau.  Momen "AHA" (tau sesuatu),  membuat kita semakin bersemangat mencari tau hal lainnya.

Setiap selesai menuntut ilmu (baik itu mencari dan mendapatkan suatu ilmu),  selalu bersyukur dan berdoa.

Proses cinta terhadap ilmu memang tidak mudah,  tapi kita bisa melakukannya pelan pelan ✅

***

2⃣ Dalam poin adab menuntut ilmu yakni ikhlas, membersihkan hati dari hal2 buruk, itu seringkali terlupa atau terlalaikan. Karena keseharian kita yang sibuk dengan aktivitas RT dan anak2 balita, jadi lalai untuk muhasabah diri setiap harinya. 😭 Bagaimana kira2 solusinya? Adakah yang mau berbagi pengalaman serupa?

~ Cici ~

Jawaban :

2⃣Setiap sebelum menuntut ilmu,  tenangkan diri dan pikiran.  Kemudian bersihkan lagi niat semata mata untuk meningkatkan derajat kemuliaan hidup. 

Hilangkan dulu rasa lelah sehingga kita bisa tulus menuntut ilmu.

Buat waktu khusus untuk menuntut ilmu,  sampaikan kepada suami dan anak anak agar memberikan waktu tsb utk ibu fokus belajar ✅

***

3⃣ Assalamu'alaikum... bagaimana cara mengenalkan adab dalam menuntut ilmu bagi anak usia dini, terutama bagi ibu yang WM (working mom)?? Apalagi jika anak tersebut diasuh oleh Nanny atau Nenek?? Terima kasih

~ Diajeng Ayu ~

Jawaban :

3⃣ Untuk anak usia dini,  mereka lebih cepat mengerti jika kita mempraktekkan.  Karena mereka masih dalam usia meniru.  Misalnya cara kita memperlakukan buku sebagai sumber ilmu harus dengan baik,  praktekkan didepan anak.  Saat kita mencari ilmu,  ceritakan kepada anak dg bahasa mereka bagaimana adabnya. 

Jika working mom,  sebelum memberi tau anak,  kita harus satu pemahaman  dg nanny atau neneknya.  Diskusi dahulu dg mereka,  dan sampaikan hal yg sama kepada anak.  Sehingga dia tidak bingung mana yg benar atau mana yg salah. ✅

Tambahan jawaban:
Komunikasi produktif,  itu kuncinya mba 😊 tentang komunikasi produktif,  setelah ini saya share salah satu tulisan dari bu septi ya mba.

***

4⃣ Bagaimana menyikapi ilmu yg kita dapat dr broadcast yg tdk mencantumkan penulis atau sumber sedangkan ilmunya bagus untuk disampaikan lagi?

~ Annisa ~

Jawaban :

4⃣ Lebih baik tidak disampaikan ilmunya sebelum kita mencari tahu dahulu sumbernya mba. ✅

***

5⃣ Bismillah

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Mba, td dibahas adl adab sebelum menuntut ilmu, thd diri sendiri, guru dan mencantumkan sumber drmn ilmu tsb

Nah, setelah adab menuntut ilmu, adab apa yg harus kita lakukan dlm mengamalkan ilmu dgn baik dan benar, terkadang pemahaman kita thd ilmu bs berbeda antara dgn 1 dan lainnya...

apakah sebaiknya kita mengamalkan bersama dgn yg lain atau kita amalkan dl ke diri sendiri, baru kita berikan ke orang lain

Terimakasih

~ Fida ~

Jawaban:

5⃣ adab setelah menuntut ilmu yaitu segera praktekkan,  tidak perlu menunggu sukses,  bisa kita sampaikan.  Proses berharga inilah yg harus kita sampaikan. 

Misalnya,  saya baru saja dapat ilmu komunikasi produktif dari ibu profesional,  materinya seperti ini.... Bla.. Bla

Yg sudah saya praktekkan bla..  bla..  Jelaskan

Learning poin yg saya dapatkan... Jelaskan,  jadi kita tidak sekedar omdo ✅

***

6⃣

1. bagaimana contohnya mengamalkan adab menuntut ilmu, sehingga bisa dicontoh oleh anak-anak? dalam proses belajar seperti apa yang bisa dilakukan?

2. bergegas mengutamakan waktu dalam menuntut ilmu, bagaimana maksudnya? apakah ada aturan dalam bergegas? khususnya untuk proses diskusi malam ini, untuk saya, waktunya bersamaan dengan waktu perjalanan pulang dari kantor, adakah solusi dalam hal ini? padahal ingin sekali mengutamakan waktu dalam berdiskusi

3. Adab terhadap sumber ilmu, untuk no. a, mohon maaf saya belum dapat poin maksudnya, semoga penjelasan malam ini bisa menjawab penasaran saya.

4. Bagaimana bila hasil pembelajaran ditulis kembali berdasar pemahaman peserta, di blog atau situs online lainnya dan dapat diakses umum, apakah tetap harus mencantumkan sumber ilmunya? terkait dengan adab terhadap sumber ilmu.

~ Ayu ~

Jawaban:

6⃣
1. Cara kita mencari ilmu,  misalnya belajar kepada ahlinya.  Contohkan didepan anak adab menuntut ilmu,  seperti tidak melipat lipat isi buku,  tidak menginjak buku,  semangat ketika menuntut ilmu

2. Misalnya buat alarm 10 menit sebelum belajar,  jika sedang dalam perjalanan dan memungkinkan utk belajar (di kereta),  bisa dimanfaatkan untuk belajar.  Tapi jika tidak,  bisa belajar pada saat sampai dirumah,  atau jika memungkinkan pulangnya dipercepat atau diperlambat.

3. Sumber ilmu ada bermacam macam,  ada dari buku atau dari internet (online).  Kita sering melihat atau pernah melipat lipat isi buku,  melakukan penggandaan buku atau membeli buku bajakan,  itu sebaiknya tidak dilakukan. 

Utk online,  kita sering langsung share jika mendapat suatu ilmu atau informasi tanpa cek &  ricek sumbernya valid dan terpercaya atau tidak,  bahkan tidak ada sumbernya

4. Boleh,  asal dicantumkan sumber ilmunya.  Misalnya resume kuliah matrikulasi iip jkt di group WA

***

7⃣

1. Bagaimana cara memperlakukan yg baik sumber ilmu dalam bentuk buku? Agar kita sama persepsi baiknya seperti apa?

2. Apakah cara berpakaian si penerima ilmu juga merupakan salah satu adab dalam mencari ilmu?

~ Dewi Setianingrum ~

Jawaban:

7⃣ 1. Adab terhadap sumber ilmu (buku)
a. Tidak meletakkan sembarangan (posisi mudah terinjak secara langsung) buku  ketika sedang kita pelajari.
b. Buku yg sdg dipelajari tidak dilipat-dilipat halamannya.
c. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
d. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

2. Tentunya cara berpakaian yang sopan dan bersih akan mempengaruhi kenyamanan kita dalam menuntut ilmu. Berpakaian sopan dan bersih pada saat menuntut ilmu, akan mempengaruhi perasaan kita secara tidak langsung. Bayangkan jika kita saat menuntut ilmu, pakaian kita kotor atau bau dapur bahkan keringat, kita tidak akan nyaman dan tidak maksimal pada saat menuntut ilmu.   ✅

***

8⃣

1. Saat menuntut ilmu, sebaiknya pelajari sekaligus beberapa tema atw fokus pada satu ilmu?

2. Adab terhadap guru salah satunya mencari keridhaan guru. Bagaimana apabila secara karakter merasa tdk cocok/nyaman dgn guru?

~ Astri ~

Jawaban:

8⃣ 1. Mba astri, sebaiknya fokus pada satu jurusan di universitas kehidupan (sangat memungkinkan satu jurusan ini memiliki banyak ilmu yang saling berhubungan). Tahapannya, pertama tentukan terlebih dahulu, mata kuliah apa yg akan kita ambil di universitas kehidupan ini. Setelah ketemu, FOKUS di bidang tersebut, dan bangun prinsip hidup.

Untuk ilmu lain diluar jurusan yang sudah kita tentukan, gunakan prinsip *Menarik tapi TIDAK tertarik* untuk godaan ilmu yang lain.

Totalitas dalam mencari ilmu di jurusan ilmu kita. Setiap info yang masuk gunakan sceptical thinking terlebih dahulu.

Default jawaban di otak kita selalu "TIDAK PERCAYA" sebelum mendapatkan dari sumber yang valid.

Cari sumber validnya. Sehingga ilmu tsb baik dan benar.

Setelah itu amalkan.

Setiap selesai mendapatkan sebuah ilmu baru, saya dan pak dodik segera menuliskan, apa
perubahan yg harus kita lakukan mulai esok hari berkaitan dg ilmu tsb ✅

(Jawaban bu septi di kelas matrikulasi fasilitator oktober 2016)

2. Jika karakter atau akhlak guru tersebut memang tidak baik, kita tidak perlu belajar dari beliau. Bu septi pernah menyebutkan sebuah kisah tentang seorang ibu akan mengirim anaknya menuntut ilmu, maka pesan beliau
hanya satu:

*Berangkatlah dan pelajari akhlak dan adab gurumu dulu, sebelum kamu menuntut ilmunya*
Tetapi jika kita tidak suka dengan guru tersebut karena pernah mengalami pengalaman yang tidak baik, sebaiknya kita yang evaluasi dan perbaiki diri. ✅

***

9⃣ Bagaimana cara mengatasi minder dalam menuntut ilmu?

~ Anita ~

Jawaban :

Mba anita, apa alasan kita minder dalam menuntut ilmu? karena kurang pintarkah? jika iya, berbahagialah. karena itu akan membuat kita ingin tahu lebih banyak tentang ilmu tersebut. tetapi jika kita merasa sudah pintar, maka harus ada alarm waspada (merasa sombong dengan ilmu yg dimiliki)

Jika karena alasan lain, kenapa harus minder, sedangkan ilmu yang kita cari dapat menaikkan derajat kita. ✅

***

🔟 Ada tambahan dua pertanyaan lagi dari Mba @Dewi Setianingrum IIP B3  : 

1) Bolehkan kita mencari ilmu tanpa ada guru?
2) Bolehkah kita pilih pilih ilmu yg mau kita ambil?

Jawaban:

🔟

1) Bolehkan kita mencari ilmu tanpa ada guru?
saya sangat tidak menyarankan mencari ilmu tanpa adanya guru karena darimana kita tau bahwa ilmu yang kita cari itu benar adanya? jangan sampai ada godaan yg menyesatkan kita ketika mencari ilmu tanpa guru.

yg harus di ingat, guru tidak hanya dalam bentuk fisik (manusia), buku yang kredibilitasnya terpercaya juga merupakan guru karena ditulis oleh orang orang yang telah mumpuni dibidangnya.

2) Bolehkah kita pilih pilih ilmu yg mau kita ambil?
jika dipilih karena ada niatan tertentu atau ambil yg kita suka saja, sebaiknya jangan. misalnya, adab menuntut ilmu ada 3, kita cuma ambil 1 saja dari 3 itu karena hanya suka dengan poin 1 saja, itu tidak dilakukan.

Tetapi, misalnya ada banyak ilmu (ilmu mendidik anak, ilmu bisnis, ilmu sains), kita hanya pilih ilmu mendidik anak saja untuk saat ini karena sangat dibutuhkan dg kondisi sekarang. itu tentu boleh, malah disarankan karena kita bisa fokus mendalami ilmu tsb. ✅

***

1⃣1⃣ Sy selalu ingin bergegas jika ada majelis ilmu, namun keadaan yg memaksa saya akhirnya terlambat. krn kesibukan di rmh mengurus anak2 dan suami. ada saran gmn solusi nya?

~ Febbi ~

Jawaban:

1⃣1⃣ mbak febbi, ini urusan manajemen waktu yg harus dibenahi.

Bagi waktu kita antara :

a. Mengurus suami dan mendidik anak
b. Pengembangan diri
c. Sosial masyarakat/bekerja

Selama 24 jam, gunakan masa transisi antar waktu tsb untuk mengembalikan energi kita.

Misal saat anak2 sdh tidur, kita bisa fokus ke pengembangan diri, bersiap sepenuh hati, dg cara membersihkan diri, ganti lokasi dan suasana.

Masa transisi dari bekerja ke rumah kemudian mendidik anak, maka panggil suasana bahagia (lupakan pekerjaan kantoran), percantik diri dan bersenang senanglah dg anak.

Krn saat berangkat kerja kita cantik maka pulang harus lebih cantik. Berangkat kerja kita sabar, pulang harus lebih sabar.

Sejatinya hanya anak dan suami kita yg paling berhak mendapatkan kondisi terbaik kita.

Jangan dibalik yaa, dengan menerapkan hal tsb yg saya rasakan Allah memberikan bonus energi luar biasa untuk kita.

Prinsipnya jangan pernah menuntut apa yg seharusnya kita dapatkan, tapi pikirkanlah apa yg bisa kita berikan✅

- jawaban bu septi di WAG matrikulasi pengurus oktober 2016 -

***

1⃣2⃣ Ketika menuntut ilmu spt saat ini (ilmu yg bermanfaat dunia akhirat InsyaAllah) saya merasa fakir sekali akan ilmu tsb. Saya merasa bersalah kpd keluarga kecil saya. Terutama anak, karena masih up and down dalam mengasuh dan mendidik dg ilmu yg benar.
Apakah sikap sy tsb dapat menghalangi saya untuk meresapi ilmu yg diberikan oleh Penyampai ilmu (guru)?

~ Exsien ~

Jawaban:

1⃣2⃣ mba exsien,  fakir terhadap ilmu seharusnya tidak menghalangi utk benar benar meresapi ilmu, ini malah menjadi motivasi mba Exsien untuk terus bersemangat menuntut ilmu karena merasa ilmu yg dimiliki tidak pernah cukup sehingga ingin tahu lebih banyak. tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar kecuali jika kita sudah memutuskan berhenti.

jika hal ini malah menghalangi, berdamailah dengan diri sendiri terlebih dahulu, maafkan dan munculkan kembali semangat belajar :) ✅

***

1⃣3⃣ Terkait poin (a) Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.

-> Bagaimana caranya jika hati ini kadang tidak ikhlas jika org yg dsayangi (ibu kandung) dianggap remeh oleh kakak ipar, hati kadang pengen mlupakan smua itu tp kadang2 muncul kebencian pd dirinya hingga malas bekomunikasi lg dg beliau. Apakah ada solusi hingga bisa bersikap cuek dg tdk membenci beliau?

~ Eka Avria ~

Jawaban:

1⃣3⃣ komunikasikan dengan baik kepada kakak ipar. *clear and clarify*
tanyakan kepada kakak ipar, kenapa dia bersikap begitu. jelaskan secara baik kepadanya kalau memang itu membuat kita merasa tersakiti. tetap jaga hubungan baik. bersikap cuek bukan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah baru. sebaiknya selesaikan dengan baik ya mba. ✅

***

1⃣4⃣ Apabila di dalam majelis Ilmu kita terpaksa bawa anak, sedangkan mereka susah untuk diam atau tenang sehingga mengganggu ketenangan, apa yg sebaiknya saya lakukan? Apa lebih baik saya meninggalkan majelis ilmu tsb?

~ Endah ~

Jawaban:

1⃣4⃣ ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU

Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal. Mari kita pelajari adabnya :

1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON'T ASSUME

misal :
"Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah"

ini ASSUME namanya.

Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak, dengan berbagai alasan kuat masing-masing.

2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.

3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.✅⁠⁠⁠⁠

-Materi bu septi-

***

Pertanyaan tambahan dari Mba Fida:

Bagi waktu antara kita:

a. Mengurus suami, mendidik anak
b. Pengembangan diri
c. Sosial masyarakat/bekerja

U/ poin C dialami oleh sy mba trisa terbelah 2

c. Sosial masyarakat
d. Bekerja

Kehidupan sosial dan pekerjaan terkadang membuat kelimpungan dlm mengatur, setelah poin2 diatas sbg Ibu pekerja dan sbg makhluk sosial.

Kerja senin-jum'at, pulang sore saat ketemu sabtu-minggu quality time dgn family, kunjungan kerumah ortu/nenek.

Mengatur waktu sosial masyarakatnya bgmn ya?

( solusi menghadapi keadaan diatas )

Jawaban:

Jika prioritas sosial masyarakatnya paling terakhir,  pilih aktivitas yg kira kira kita sanggup dan mempunyai waktu utk mengerjakannya. Misalnya weekend.  Tapi jangan habiskan semua waktu di weekend utk aktivitas sosial. Mba Fida bisa membaginya dan berdiskusi dg anak dan suami.  Minta pendapat dan support dari mereka.

Jika memungkinkan,  libatkan anak dalam aktivitas sosial agar mereka bisa belajar.  Tetapi jika tidak memungkinkan,  cukup minta pengertian dan support dari anak.

Bu septi pernah cerita,  setiap akan melakukan sesuatu,  ia akan tanya ke suami dan anak anak.  Jika diberi restu,  beliau lanjutkan.  Jika tidak,  beliau berhenti.  Karena mengurus keluarga adalah kewajiban utama kita sebagai perempuan. 

Yakinlah *bersungguh sungguhlah kamu didalam,  maka engkau akan keluar dengan kesungguhanmu*✅

(Dari grup WhatsApp Matrikulasi Batch #3 JKT1, terima kasih para fasilitator Dan mbak Cici untuk rangkumannya)

Jakarta, 23 January 2016

Selasa, 24 Januari 2017

NHW #1 IIP

Bismillah..

📚NICE HOMEWORK #1📚

ADAB MENUNTUT ILMU

Setelah mendapatkan materi dan diskusi, kemudian inilah saatnya peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #3, menguatkan ilmu yang kami dapatkan kemarin. Tugas ini dinamakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW. Hanya ada 4 pertanyaan: jurusan ilmu yang diminati, alasan, strategi Dan perubahan sikap yang harus dilakukan untuk mendukungnya.

Tidak sulit, tapi sebagai emak-emak rempong butuh me time khusus buat mengerti NHW ini, agar jawaban-jawaban bisa keluar dari hati yang paling dalam alias difikirin sebaik mungkin Dan diterapkan kemudian dengan sungguh-sungguh. Uhuuuuy... Eh aamiin.. insyaa Allah..

Jurusan
Dalam menentukan jurusan ilmu yang akan saya ditekuni di universitas kehidupan ini sebenarnya sempet galau, karena kepengennya banyak bangeeeet.. tapi seperti yang bu Septi sampaikan (lewat fasilitator) sebaiknya kita bisa fokus pada satu jurusan di universitas kehidupan kemudian bangun
prinsip hidup. Untuk ilmu lain diluar jurusan yang sudah kita tentukan, gunakan prinsip Menarik tapi tidak tertarik untuk godaan ilmu yang lain.

Dan setelah berdiskusi dengan sang suami, saya akhirnya memutuskan untuk harus segera fokus di ilmu parenting. Dengan harapan ilmu tersebut nantinya akan berkembang ke dunia pendidikan anak-anak.

Alasan
Sebelum menikah, saya Dan (saat itu calon) suami sempat bertukar fikiran, apa yang kami harapkan dalam sebuah pernikahan. Salah satu yang terbayang bagi kami saat itu, saya kelak akan menjadi seorang IBU, Dan Salah satu tugas penting seorang ibu adalah menjadi ustadzah, guru bagi anak-anaknya. Tapi kemudian, hingga 11 tahun pernikahan, saya merasa gagal mewujudkan impian kami. Saya belum bisa menjadi ibu yang baik bagi ke-empat putra-putri kami, bahkan untuk perihal pendidikan hampir semua diambil alih oleh sekolah.

Kehamilan -yang tidak pernah terprogram- setiap 2 tahun sekali (kami menganggap ini adalah qadarullah) membuat saya lalai dan menunda menjadi ibu yang sempurna di mata anak-anak. Saya belum bisa membagi perhatian dengan baik dan adil ke semua anak-anak. Padahal keadaan menuntut kami untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, yang tidak dapat kami temukan di luar rumah, terutama untuk anak spesial kami yang memiliki down syndrome. Dan saya yakin, untuk memulai home schooling, maka yang pertama kali harus diperbaiki adalah komunikasinya dulu, maka dari itu, saya harus menimba ilmu parenting-nya terlebih dahulu.

Saat dokter terpaksa melakukan proses tuba ligation di Rahim saya setahun yang lalu, dengan berbagai alasan, saat itu juga saya menyambil hikmah, "OK. Kini saatnya saya tepati janji saya. Memperbaiki bonding IBU dan anak, menjadi ustadzah bagi anak-anak".

Strategi
Yang harus saya lakukan adalah:
💙 memaafkan diri saya sendiri, meminta ampun pada Allah, dengan cara memperbaiki Ibadah dan dzikrullah.
💚 Meminta maaf pada suami dan anak-anak, selanjutnya memperbaiki gaya komunikasi.
💜 Mengikuti matrikulasi Dan kulwap-kulwap di grup parenting, belajar untuk menerima ilmu dengan Baik, tidak sombong terhadap ilmu yg sudah pernah diperoleh sebelumnya, dan siap berbagi jika itu bisa bermanfaat bagi orang lain.
💛 Dan juga sebagai strategi sekaligus point terakhir (perubahan sikap) adalah memperbaiki kekurangan saya, yang di antaranya adalah harus lebih Baik dalam management waktu, belajar lebih sabar Dan tidak langsung bertindak reaktif. See the problem from balcony. Mudah memaafkan dan minta maaf (tidak baperan), berusaha untuk ikhlas atas apapun yang terjadi pada kehidupan ini.

Demikian yang bisa saya uraikan dalam menjawab NHW Kali ini, semoga dengan saya tuliskan di blog ini, bisa menjadi reminder saya pribadi, sekaligus mestakung, agar Allah mewujudkan impian-impian kami.

Aamiin..

Selasa, 17 Januari 2017

Fun Learning at Rockstargym

"bu look bu, tuckjump, forward roll, cartwheel, hand stand, bridge, candle stick, (Dan istilah" lain yg saat itu saya ga paham maksudnya Dan ga nyangka razan menyebutkan istilah" itu)" teriak razan sambil memamerkan gerakan tubuhnya.
Apa itu zan?
Gymnastic!
"Look bu, girrafe, kaya Gini.. butterfly, coba bu. Cobaaaa!"
Gymnastic juga?
"Bukaaaaan, (ini) yoga"

Setelah Kemarin menyaksikan sendiri di performance week, Baru saya paham, ooooh itu maksudnya
Razan. Beberapa gerakan mendekati, tapi lebih banyak gerakan yg harus diperbaiki 😁 it's okay, pelan pelan ya zan, Kalo perlu nanti Kita daftar kelas private (tunggu ABI Naik gaji 😂)

Ya, kami bersyukur menemukan tempat aktivitas buat anak" yg kelebihan energi ini. Dari anak" bayik, emang pada suka melakukan gerakan sirkus ala ala sama abinya. Hadeuuuuh di mata Abi Dan anak" sih emang fun bgt, tp buat emak yg nonton horor doooonk, takut kecengklak, eike juga yg rempong 😅 Waktu di amrik sih enak, playground dimana", buka pintu apartment pun langsung bs loncat ke monkey bar, luaaaaaas pulak. Jd pas balik ke Jakarta, Salah satu yg Kita watirin ya itu, secara rumah di gang, lapangan belakang udah jd kontrakan 4 pintu 🙈

Kita tau rockstargym ini dari salah satu ortu spesial, di facebooknya, mbak Rina sering posting Zahra (ads nya) latihan dancing Dan gymnastic. Woooow, keren loh gerakannya ga ketinggalan jauh sama peer nya.. keren nih Kalo razan bisa ikutan. Tapi... Pasti Mahal! 🙀

Biar ga penasaran aja sih, Begitu balik Dr amrik, Juni tahun lalu, langsung donk survey ke rockstargym terdekat. Karena rumah Kita di tebet, sekalian lah Kita kangen"an ngemall di Kota kasablanka.

Rockstargym ada di lantai 3, tapi naiknya cuma bs dari eskalator sebelah Baskin Robbins (Kita sempet Salah Naik eskalator ke gereja 😅)

Pas dtg, langsung disapa sama CS nya di depan, dikasih tau, harga membernya 5jt buat 1 semester. Dudududu langsung mundur teratur.. gaji belom ketauan berapa gaya banget Mau "nyekolahin" anak 5jt/anak. Tapi karena saya #emakhemat, jd Kita daftar buat free trial dulu lah.. (yang katanya waiting list)

Sebulan Dua Bulan sampai empat Bulan ditunggu, iiih gada kabarnya huhu eike rasa mas CSnya tau Kita cuma Mau numpang free trial, jd aja males masuk😂😂😂

Sementara yg ngomporin posting foto" anak"nya di kelas gymnastic semakin banyak aja. Anak" sayah makin mupeeeeng 😅😅😅

Karena gaji udah ketauan, akhirnya coba utak atik, kayaknya bisa lah sisih"in dikit dari tabungan sisa gaji Abi ngeloper koran kmrn di amrik, semester depan ada uang bonus 😁 demi anak" 😘

November lalu, Pulang jemput razan sekolah, mampir lah ke kokas, dilalah Kali ini ketemu marketing yg baekan dikit dr yg sebelumnya (yg emang cuma ngajak ngobrol di depan Meja).. namanya mbak Andin.

Sama mbak Andin, Kita diajak keliling rockstar. Mulai dari studio gymnasticnya, lapangan basket, tennis, sampe swimming pool yg ada water park ya. Huwaaaaah makin mupengggg laah anak" (Dan saya). Habis itu mulailah di jelaskan masalah fee membernya. Eng Ing eeeng.. deg"an hahahah lebay yes?!

Kata mbak Andin, Kita beruntung Kalo mau daftar skrg, karena term nya Baru mulai, jd ga ketinggalan jauh kelasnya. Trus lg ada promo credit card, free joining fee, jd tinggal bayar processing fee sama monthly fee nya aja 3 Bulan free 1 Bulan, trus nanti dapet free kelas jumpstart (private) 1x, trus ternyata anak ke 2 sampe ke 5 dapet harga diskon (selama Masih 1 Kartu keluarga). Anak pertama monthly fee nya 800an, anak selanjutnya 300an. Pokoknya Kalo daftar 3 anak, jatohnya sekitar 1,7/bln. Yg artinya rata" per anak ga nyampe 500rb/Bulan. Alhamdulillah insyaAllah jadi ga usah ngarep duit bonus buat bayar monthly fee nya hihihi.. (ada untungnya juga memutuskan ukhti masuk SD negeri aja, Jadi budget SPPnya bisa dipake buat bayar kegiatan yg emang dia minati 😆)

Ga segampang itu bilang yes yaaa.. maklum saya wanita galau, Bolak balik telfon Abi, make sure ini Mimpi ga sih? Apa penipuan? Hahahaha... Soalnya 4bulan yg lalu, Kita ngebayangin harus keluar 30jt/th. Ini koq alhamdulillah bgt bs dapet harga setengahnya. (Lah gara" ngitung 1,7jtx12 Jadi berasa mahalnya 😂😂😂)

Setelah sehari menggalau (abi sih dari awal bilang yes), akhirnya besoknya Kita beneran daftar. Yeaaaay!!!

Jadi si rockstargym ini sebenernya lebih ke sport club, cuma karena targetnya anak" jd lebih banyak kelas fun nya. (Kalo Mau liat jadwal lengkapnya Buka web nya aja ya www.rockstar-gym.com)
Kalo di Indo, Aku kurang tau, tp waktu di amrik kmrn, Kita sempet ikut sport club kampus namanya SRSC, bayarnya per semester. Banyak kelas" ber-instruktur yg bisa diambil sesuai jadwal, tp banyak juga lapangan yg bs Kita pake rame", kaya bulutangkis (biasanya orang Indonesia pake kelas ini tiap minggu pagi). Jadi anak" udah ga kaget lagi, cuma nge scheduling jadwalnya aja yg susah, karena bentrok sama jam sekolah.

So far, OK lah, sampai 2 Bulan ngejalanin skrg ini, anak" Masih sangat excited tiap ketemu Hari selasa, jumat Dan sabtu, jadwal anak" rockstargym (Emaknya aja yg gempor Bolak balik anter jemput macet"an hihihi). Selain gymnastic, kelas favorite anak", ukhti paling suka kelas parkour, razan excited bgt Kalo udah ngantri kelas yoga, aina cuma Baru bisa ikut beberapa kelas, semua dia suka, tp Masih Malu" plus ngantuk karena jamnya pas jam tidur siangnya dia semua 😂😂

Tapi yang paling diacungin jempol dari rockstargym ini adalah karena mereka menerapkan sistem inklusi, jd siapapun bisa masuk. Malah disupport banget. Razan awalnya sempet dipandang aneh sama temen" kelasnya. Tp pas performance kemaren, razan malah yg paling banyak dapat tepukan semangat dari temen-temennya 😍😍😍

Gara" ini juga, emak jd tambah yakin buat praktekin homeschooling  buat razan tahun ajaran baru besok.

Semangaaaaaaat!! Yeaaaay!!

Jakarta, 25 january 2016

Selasa, 06 Desember 2016

Nobar film Moana

Awalnya ga kepikiran sama sekali sama kita buat ngajak anak-anak nonton di bioskop sekarang. Terlalu beresiko! (Baca: resiko buat keluar studio dan gagal nonton film yang tiketnya sudah dibayar mahal karena anak-anak nangis/ga betah) Hahahaha..
Tapi kemudian ada rezeki dadakan, tau-tau Abi ngasih tau kalo family Gathering tahunan kantornya kali ini akan diadakan di sebuah mall dengan kegiatan makan dan nonton bareng. Karena ini merupakan fasilitas kantor (yg mana kalo ga ikut ya gada subtitusinya :p), jadi rasa nya sayang untuk dilewatkan ;)
Apalagi setelah tau film yang akan ditonton bareng adalah film Moana dengan kategori SU. Yeaaaay!!!

Mulai lah sounding-sounding ke anak-anak. Dari nonton trailer nya sampai foto di depan poster 3D-nya yang lagi gencar dipromoin di mall tempat kita biasa nongkrong (anak mall :p), bahkan emaknya niat banget beli kaos bertema Moana. Hahahaha.. (alibi: soalnya dress code acara nya  putih, anak-anak kan ga punya, jd shopping deh :p)

Sampai hari H, langsung aja cerita di dlm bioskop yaa...

Reaksi Bayi 9 bulan: karena udah lama banget ga ke bioskop (bioskop di amrik mahal cyiiiin :p), yg kebayang ya itu tadiiii siap-siap deh emaknya gagal nonton kalo anak bayik tetiba nangis kejerrrr karena ketakutan. Ternyata Jeng Jeng!! Pas iklan trailer film, anak bayi excited sekaliiiii... Langsung melotot tajam, seperti nya dia bingung koq ada TV segede Gini, biasanya cuma liat layar HP emaknya pas video call, itu juga dia lebih tertarik sama casingnya yg gambar kucing hihihi..
Begitu ada suara yg menggelegar, kemudian saya jadi merasa bersalah.. OMG emaaaaak apa yg sedang kau lakukan??? Anak bayi koq dikasih polish suara Gini??? Berasa banget mendzolimi anak sendiri hiks hiks..
Dan karena kaget itu, Sofia jd refleks cari nen dan kemudian bobo nyenyak sampai film selesai. Alhamdulillah..
Jadi ngajak anak bayi nonton di bioskop JELAS TIDAK DIREKOMENDASIKAN yaaa..

Reaksi anak 3tahun: sebenernya ini bukan pengalaman pertama Aina buat masuk bioskop, pas liburan Natal tahun pertama kita nekad nyobain nonton ke bioskop, penasaran karena harga tiketnya koq murah banget (cuma $5, normal nya sekitar $14), ternyata di amrik itu harga tiket (either bioskop ataupun museum, zoo dll) selalu berubah, tergantung weather nya. Jadi pas kita beli tiket bioskop itu kan belinya online, ga cek weather, dan karena lg liburan jd kita emang lg asyik leyeh-leyeh di kamar yg full heater! Sampai hari H-nya kita semangat sekali Jalan" ke bioskop yang ternyata udaranya bisa bikin bekuuuuu!!! Brrrrr... Kebayang gak? Bawa anak 3 naik bus, yang mana dari bus ke bioskop harus Jalan kaki agak jauh, diiringi angin yg berhembus kencangggg... Ga heran sampe bioskop sepiiiiiiii banget, 1 studio gedeeee cuma kita sekeluarga doank + 1 keluarga lain yg nonton Hihihi... berasa punya bioskop pribadi 😁
Ok back to the topic, jd ini kali kedua Aina nonton di bioskop, yg pertama sama seperti sofia, cuma numpang bobo mania di bioskop, dan kali ini yg terjadi pada adalaaaaaaah... Lebay!
Dari Lampu mulai mati udah mulai bawel tanya-tanya "bu koq lampunya mati bu?", Trus lanjut iklan, dia komplain "ga mau nonton iniiiii...", "Ga bagus...", "Bu moana nya mana bu?"
Daaaan ketika film nya dimulai, Aina mulai tegang, pas adegan serem (film ini banyak adegan langit gelap, ombak besar, ilustrasi jahat) Aina mulai pasang muka bête, alesannya ngantuk, daaaaaan berakhir dengan menangis.
Butuh sekian menit untuk mendapatkan perhatian dan bantuan Abi yang tentu saja lagi asyik dan seru-serunya nonton (Duduk 3 bangku setelah Aina). Yap! Lupa mengatur posisi tempat duduk. Waktu itu yg kepikiran cuma, ibu dan Sofia duduk di kursi paling ujung jd kalo harus cabut, ga ganggu penonton yg lain.
Begitu Aina dipangku Abi, situasi kembali aman. Sampaaaaaaiiiii 10 menit sebelum film selesai dimana itu lagi adegan puncaknya, tetiba Aina MINTA PIPIS! LOL
akhirnya abi harus mengikhlaskan dirinya untuk tidak menyelesaikan film ini, karena pas Abi dan Aina kembali dari kamar mandi, tepat saat film nya TAMAT. 😂

Waktu di perjalanan pulang ke rumah, seperti biasa, kita diskusiin lagi film yg kita tonton, minta anak menceritakan kembali dengan bahasanya, mengkaji hikmah di balik film tersebut. Saat Aina kita tanya, kenapa menangis, dia ngaku "Aina kan takut",
"jangan takut donk, Moana aja ga takut, dia berani",
"Moana (itu) Ukhti, akang Maui, Aina Hei Hei!" LOL... Yang belom tau siapa Hei Hei, tonton dulu ya film nya :p
Kesimpulannya: anak umur 3 tahun (pada kasus ini sih) belum siap ke bioskop. Kalaupun mau dicoba, harus sounding-sounding peraturan di bioskop (termasuk minta simpan dulu kalo ada pertanyaan, nanti kalo udah selesai kita diskusiin, tapi pasti susah sih, namanya anak 3 tahun, lg kritis-kritisnya hahahaha), ga usah terlalu serious ikut nonton, daripada menyesal kemudian😛 dan  pilih duduk kursi pinggir (persiapan jika anak kibar bendera putih).

Reaksi anak dengan down syndrome 8th: yang ini niiiiih yang seru, dari pertama masuk bioskop sampai ending nya, ekspresif abeeeesss.. Ketawa paling kenceng, sedih dan takut sampe mengkeret di Kursi nya, tegang sampe berdiri-diri, pas adegan terbang, ikut mengepak-ngepak tangannya. Berasa ikut acting di film nya ya Kang? 😀
Tapi pas minta cerita ulang, masih diem, harus dipancing-pancing dengan pertanyaan, baru dia jawab. Berarti harus sering-sering nonton kita ya Kang 😍

Kalo Ukhti sih ga udah dibahas lah yaaa.. anak umur 10 tahun, udah enjoy banget, udah ok banget manner nya, walaupun pada saat diminta menceritakan ulang, fokusnya tetep di adegan yg dia suka aja. Beda-beda sih ya kemampuan berceritanya tiap anak.

Ok itu aja ya review kami tentang nobar kali ini, siapa tau memberikan pencerahan buat yg pengen ngajak anak"nya ke bioskop. Hehehe.. atau boleh juga gantian sharing pengalaman kalian ;)

Kamis, 07 April 2016

Razan dan Special Education Class

Ga sampai 2 bulan lagi, kita harus pulang ke Indonesia, back for good insyaAllah, sudah saatnya si abi kembali dan membangun negeri tercinta lewat perusahaan BUMN yg sudah ia tekuni sejak 12 tahun yg lalu.

Kalau bukan karena niat baik itu, (ciye elaaah kesannya si abi berbakti banget yaak, pdhl mah emang diiket 10tahun hahahha), enggan rasanya untuk pulang ke tanah air. Ga seperti yg orang" bilang, bahwa tanah Amerika kejam, yg kita rasakan justru sebaliknya, kita merasakan banyak hal hal baik di sini, bahkan kami yang hanya numpang hidup selama 2 tahun di sini memiliki hak yang sama atas fasilitas -fasilitas yang diberlakukan di state.

Mungkiiiin, bisa jadi karena kami tinggal di kota kecil yang hampir 80%nya di isi oleh pelajar yang banyak datang dari luar US, jadi penduduk asli nya sudah biasa menghadapi diversity di kota ini, mereka ramah dan baik semua, alhamdulillah :)

Salah satu yang beraaaaat banget buat dilepas dari kota ini adalah sistem pendidikannya. Betapa beruntungnya kami, Razan sempat mengenyam pendidikan di negara ini. Waktu kita ke sini, Razan masih berumur 5 tahun, dan masuk ke kelas kindergarten. Yang ternyata terkoordinasi dengan kelas special education. Jadi Razan hanya masuk ke kelas kindergarten dan belajar bersama teman-teman "normal"nya saat jam-jam tertentu saja. Seperti pada saat pelajaran olahraga, seni, dll. Saat pelajaran calistung, Razan akan diambil ke kelas spesial untuk belajar bersama guru-guru yang bersertifikasi special education.

Banyak kemajuan-kemajuan Razan yang dilaporkan, seperti membaca, berhitung, dll (walaupun buat saya pribadi ini hanya bonus, karena toh nanti pulang ke Indonesia, Razan harus mengulang lagi pelajaran yang sama dengan bahasa yg berbeda -_-'), tapi yang paling penting adalah kesempatan-kesempatan yang sama dengan teman-teman seusianya yang sudah Razan rasakan. Ga ada bully, bahkan Razan katanya jadi big man on campus yg artinya kurang lebih anak favorit, semua orang di sekolah kenal dia :)

Guru-guru sampai bus driver juga keliatan banget sayangnya ke Razan. Team special education dari guru, terapis, psikolog, sampai pengawas special education se-county (apa ya? Kabupaten kali ya) sebenernya menyayangkan Razan pulang, apalagi pas tahu kalo di Indonesia belum ada public school/ sekolah negeri yg siap menerima anak dengan down syndrome.

Tapi, kami selalu yakin, di manapun Razan berada, insyaAllah selalu dikeliling orang-orang yang baik dan sayang sama Razan. Mudah-mudahan juga pas kita pulang, sistem pendidikan di Indonesia juga cling abrakadabra jadi sebagus di sini hihihihi...

AAMIIN!!!

:D

Rabu, 16 Maret 2016

Sofia dan Upper lip tie

Setelah melewati 2 minggu pertama breastfeeding yg cukup menyiksa.. hehe lebay ga ya? Yg pasti lukanya lebih parah drpd pengalaman 2 minggu pertama breastfeeding anak" yg lain.

Yup, masalah latch on selalu jd kendala buat saya penyesuaian di 2 minggu pertama menyusui. Pertama karena nipple yg kaku dan masih keras, dan juga luas areola saya yg lebih besar dibandingkan rata" areola ibu menyusui pada umumnya.

Kali ini bonus lip tie yg menempel pendek di antara bibir dan gusi atas Sofia yang membuat sofia susah "mendowerkan" (halaah apa bahasa indonesianya yaa? Hihihi) bibir atasnya saat meyusui . Pantas saja waktu di RS, saat dipompa, bukannya keluar asi, malah darah yg mengucur dr payudara saya. Ternyata lip tie itu yang menyebabkan luka di ujung nipple, bentuknya khas seperti halnya luka yg ditimbulkan pada anak dengan tongue tie, yaitu ujung nipple jd lancip. Padahal pengalaman dengan kakak"nya sebelumnya, lukanya biasanya cracked di pangkal" nipplenya aja. Sakitnya sih sama hihihi.. cuma yg ini karena double lukanya ( di pangkal dan di ujung nipple) jd sakitnya juga double 😯

Karena ini sudah anak ke sekian (mau bilang 4 rasanya banyak banget 😛), dan tinggal di negara orang pulak, yg gada helper kecuali memanfaatkan kesholehan suami 😘 jd mental menghadapi rasa sakit after sectio, termasuk 2 minggu awal menyusui sudah disiapkan sebelum melahirkan, jd mau ga mau, saya sudah punya mindset untuk lebih kuat menghadapi segala HTAG (bahasa orde baru banget nih halangan, tantangan, ancaman, gangguan, ketauan deh umur saya hahaha). Yg jadi masalah adalah, ketika kita kontrol ke dokter dan BBnya Sofia turunnya jauuuh sekali (padahal biasanya bayi usia 2 minggu sudah kembali naik), dari BB lahir 7.9lb, menjadi 6.15lb. Huaaaa sedih banget deh..😢

Dan seperti biasa, dokter disini selalu bilang "don't worry, its okay".. tp dia juga bilang "saya jarang sekali mendiagnosa seperti ini, tp anak kamu kayaknya lip tie", dia kasih rekomen dentist yg biasa nanganin lip tie. Dan dokternya juga minta selain disusui langsung, sebaiknya dikasih tambahan susu botol baik asip maupun sufor (tentu kami pilih asip, dan yaa setengah mati mompanya karena stgh jam sekali sofia minta nen, karena dia setiap nyusu ga maksimal, akibatnya cepat lapar lagi, otomatis buat perah ya harus curi" saat dia tidur, dan dapatnya juga ga banyak😥 ).

Walaupun sebenernya udah curiga dr awal (karena luka nipple yg khas itu), tp kita tetep ga yakin buat bawa sofia ke dentist (karena masalah asuransi juga sih hahahaha). Menurut abinya, proses clipped (pemotongan lip tie) belum tentu menyelesaikan masalah tp bs jadi menimbulkan masalah baru. Sebelumnya sempet sebel sama keputusan abi, karena dia ga ngerasain sakitnya siiih hehehe.. to pas googling" dan nemu kasus yg anaknya malah terinfeksi setelah insisi, ya serem jugaaa 😣

Kemarin (usia sofia 3 minggu) kita ke WIC, ambil jatah bulanan sekalian make appointment sama konselor laktasi, namanya Whitney. Whitney ini dari semenjak saya masih di RS, bela"in visit (padahl di rs udah ada lactation nurse yg 2x sehari datang dan make sure pasien" bs melakukan breastfeeding dg baik), dan saat saya pulang ke rumah, rajin meng-sms nanyain perkembangan breastfeeding, karena kalo fasilitas wic pasti gratis hihi, jadilah saya bikin appointment untuk konsul masalah ini.

Whitney bilang, ya sofia ada lip tie dan biasanya baby" yg punya lip tie juga punya masalah tongue tie, hal ini dia buktikan dg daya hisap sofia yg kurang kuat, otot" mulutnya ga bekerja maksimal pd saat menghisap jarinya Whitney (saat konsul sofia baru aja selesai nen dan bobo nyenyak, jd ga bs nunjukin cara dia menyusu di depan whitney). Sebenarnya, kasus ini tidak jarang, dr Matt (dentist yg direkomen dr nya sofia) biasa meng-clip sekitar 25 anak setiap minggu. Wooooow.. kata Whitney, kasus begini itu biasa banget. Seperti halnya ada bayi yg matanya coklat, biru, dll, ada yg kulitnya hitam, putih, dll, ada yg normal dan liptie, tongue tie. It just like a genetic. Dan ga semua lip tie menyebabkan masalah pd breastfeeding dan berat badan. Menurut dia selain dipotong, mengingat bb sofia yg mulai naik (skrg bbnya 7,6lb) 2nd opinion adalah dengan cara dimassage oleh tenaga ahli khusus, istilahnya disini craniosacral, bagian dari fisioterapi. Whitney meyakinkan bahwa ini will be totally free karena sofia punya hoosier healthwise (asuransi gratis dr pemerintah), jd dia rekomendasi buat kita ngejalanin terapi ini dulu. Dilihat perkembangannya, kalau menyusuinya sudah bagus (ga bikin sakit lagi), dan perkembangan BBnya juga bagus, ya ga perlu di-clip. Whitney kemudian menawarkan diri untuk mendaftarkan kami ke klinik yg dimaksud. Jd kami tinggal tunggu respon balik dan buat appointment.

Alhamdulillah.. lega rasanya setelah ketemu konselor laktasi dan mendapatkan pencerahan, semoga langkah berikutnya juga dimudahkan dan dilancarkan, hingga proses menyusui kita jd lebih menyenangkan ya  Sofia 😚😚😚